BSYoGpClBUMpGUzoTfr8GUC0TA==

Kisah Khasanudin, Santri Kaliwungu yang Berhasil Mendirikan Majelis Darul Istiqamah di Kabupaten Kendal

Simak kisah perjuangan Khasanudin berikut ini dalam mendirikan Organisasi WG Santri indonesia dan Majelis Darul Istiqamah.

Potret Khasanudin (Instagram.com)
AsifbaProject.com - Kisah Khasanudin ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang yang tengah berjuang di jalan Dakwah Islam.

Pasalnya kisah Khasanudin dalam mencetuskan dan mendirikan komunitas Majelis Darul Istiqamah patut diapresiasi dan dihargai.

Di zaman modern ini tak banyak orang yang mau berjuang seperti Khasanudin. Ia berjuang ikhlas untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Namanya dikenal luas oleh kalangan Wadah Gerakan Santri Indonesia dan Majelis Darul Istiqamah lantaran perjuangannya yang sangat berharga bagi komunitas tersebut.

Berikut ini merupakan kisah inspiratif Khasanudin yang ditulis sendiri oleh Asifba Project dengan cara mewawancarainya secara pribadi dan melihat secara langsung kiprahnya selama di WG Sanindo hingga sukses mendirikan Majelis darul Istiqamah Kendal.


Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan Khasanudin 

Khasanudin merupakan santri alumni Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Jambearum Kendal. Setelah lulus, sekitar tahun 2017, dia aktif merintis organisasi Wadah Gerakan Santri Indonesia, yang biasa disebut dengan (SANINDO). 

Dan pada tahun 2020, dia mampu mendirikan Majelis Darul Istiqamah Cabang Kendal. Perjuangannya tak bisa dianggap sepele, dia mengorbankan waktu, tenaga, fikiran dan hartanya hanya untuk berdakwah di organisasi SANINDO dan Majelis Darul Istiqamah.

Lelaki kelahiran 1 Desember 1997 ini, bukan dari keluarga kiai. Dia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Sugiarto, hanyalah seorang petani yang terkadang ikut proyek bangunan. Ibunya, Rumiyah, hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Khasan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Keluarganya tinggal di Nolokerto Kaliwungu Kendal.


Semenjak kecil ia berguru kepada banyak ulama'. Seperti Ustaz Mujtahidin Kaliwungu, Kiai Marzuki Kaliwungu, Ustaz Jazuri Al Hafidz Kaliwungu, Ustaz Mu'abidin Kaliwungu, hingga KH Abdul Rochim Chamim Jambearum.

Dia juga banyak belajar di Madrasah Diniyah. Dia belajar di  TPQ Roudhlotul Athfal, kemudian dia melanjutkan di MDA Manbaul Huda, dan terakhir, Khasan belajar di Madrasah Hidayatul Mubtadiin Jambearum Kendal. Khasan juga bersekolah seperti pada umumnya. Mulai dari SDN 2 Nolokerto Kaliwungu, MTs NU 05 Sunan Katong Kaliwungu, dan SMK Hidayatul Mubtadiin.

Dengan latar belakang pendidikan agama yang kental, menjadikan Khasan memiliki banyak bekal ilmu agama islam. Dengan bekal ilmu dan keberanian, dia berani berjuang merintis organisasi SANINDO dan Majelis Darul Istiqamah.

Perjuangan Khasanudin di WG Santri Indonesia

Perjuangannya dimulai pada Januari 2017. Hasan bersama dengan Mujahid, Fajar, Iga Kusumaningsih, Erni Styani, Munadhiroh dan beberapa temannya berkumpul di Gedung NU Kendal. 

Bersama anggota IPNU dan IPPNU saat itu Rezki Dyah Kristianti dan Amaruddin Masyhuri, membahas rancangan organisasi SANINDO Kendal. Pertemuan saat itu menghasilkan struktur kepengurusan SANINDO Kendal. Saat itu, Khasan terpilih menjadi wakil ketua.


Beberapa minggu kemudian, Khasan dan teman-temanya bersilaturahmi kepada salah satu takmir Masjid Pancasila Bugangin Kendal. Kemudian dia mendapatkan izin jika masjid itu dijadikan sebagai Base Camp SANINDO Kendal. Sehingga seluruh kegiatan SANINDO Kendal dilaksanakan di Masjid Pancasila. 

Khasan dikenal oleh masyarakat sebagai pemuda yang cerdas akan ilmu agama. Pengetahuanya di atas rata-rata di antara anggota SANINDO yang lain. Sehingga dia sering ditujuk untuk memimpin tahlil, dziba', dan doa. Khasan juga seseorang yang gemar berbagi ilmu agama, kegemarannya itu ia tunjukkan dengan mengisi kajian berupa ceramah di Masjid Pancasila itu.

Seiring berjalannya waktu, Khasan kenal dengan Masyhuri. Pertemuan itu terjadi di Masjid Pancasila saat kegiatan rutinan. Usai rutinan, Masyhuri mengajak Khasan dan seluruh anggota SANINDO untuk sowan ke Gus Ilyas, pegasuh Pondok Pesantren Pring Jagad  di Sukodono Kendal.

Sesampainya disana, Masyhuri dan Khasan belum berani membahas SANINDO. Jadi, pada mulanya, mereka sowan ke Gus Ilyas hanya ingin berlatih silat di Pring Jagad. Namun, setelah duduk bersama dan mengenalkan diri, akhirnya Khasan dan Masyhuri berani membuka pembicaraan mengenai SANINDO. 


Menurut Khasan, organisasi dan gerakan dakwah SANINDO itu bagus. Visi misinya jelas, yaitu mensantrikan  masyarakat dan memasyarakatkan santri. Namun, SANINDO Kendal itu baru berdiri dan belum mengantongi surat izin resmi dari pemerintah.  

Kemudian, Masyhuri menawarkan Khasan untuk mendaftarkan SANINDO sebagai organisasi resmi. Namun, Khasan menolak. Menurutnya SANINDO masih terlalu dini untuk didaftarkan sebagai organisasi resmi. Banyak hal yang harus dibenahi terlebih dahulu.

Mendengar jawaban itu, Masyhuri mendesak Khasan kembali. Namun kali ini di depan Gus Ilyas secara langsung. Dia juga menambahkan argumennya bahwa SANINDO itu sulit maju karena belum memiliki legalitas dari pemerintah. 

Oleh karena itu, mendaftarkan sebagai organisasi resmi di Kesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) merupakan langkah yang tepat untuk mengembangkan SANINDO. Padahal, saat itu Khasan belum kenal dan baru pertama kali bertemu dengan Gus Ilyas.


Menurut Khasan, jika SANINDO ingin didaftarkan sebagai organisasi resmi di kesbangpol, SANINDO harus membenahi diri terlebih dahulu. Dia meminta teman-temannya untuk membantunya membenahi tatanan organisasi secara nyata. 

Mulai dari struktural kepengurusan, keanggotaan, visi misi dan targetnya harus jelas terlebih dahulu. Menurutnya, dengan adanya Gus Ilyas,  beliau bisa dimintai pertimbangan sekaligus pembimbing SANINDO Kendal.

Kedekatan Khasanudin dengan Gus Ilyas dan Ponpes Pring Jagad

Beberapa hari selanjutnya, Khasan sering sowan ke Gus Ilyas. Di sana, secara empat mata Khasan menjelaskan tentang SANINDO Kendal. Dia juga memberikan keterangan jika SANINDO Kendal memang belum siap didaftarkan sebagai organisasi resmi. 

Mendengar itu, Gus Ilyas sangat mengapresiasi argumen Khasan. Beliau juga membenarkan apabila banyak hal yang perlu dibenahi terlebih dahulu sebelum didaftarkan sebagai organisasi resmi.


Kemudian Gus Ilyas menanamkan pemikirannya kepada Khasan, bahwa jika 10 pemuda bisa mengguncangkan dunia, maka mengapa empat pemuda tidak bisa mengguncangkan Kendal?. Sedikit demi sedikit juga tidak masalah, yang penting solid dan istiqamah. Kalau relasi belum punya, di Pring Jagad banyak orang yang bisa membantu. 

Dari motivasi itu, Khasan semakin yakin dan semangat berjuang untuk memperbaiki SANINDO Kendal. Dia merasa kehadiran SANINDO Kendal diterima di Pondok Pesantren Pring Jagad. 

Mulai saat itulah Khasan dekat dengan Gus Ilyas. Meski dekat dan akrab, Khasan tidak mau menganggap Gus Ilyas sebagai teman. Dia hanya ingin diakui Gus Ilyas sebagai muridnya. Menurutnya, dengan Gus Ilyaslah ia bisa menimba banyak ilmu. 

Ibarat mendayung perahu, sekali dayung langsung beberapa pulau terlampaui. Karena Khasan memandang Gus Ilyas sebagai sosok  yang mumpuni di berbagai bidang. Mulai dari ilmu agama, bela diri, relasi, politik, organisasi dan lain sebagainya.


Dari diskusi itu, Gus Ilyas senang memangku dan membimbing Khasan untuk menjalankan organisasi SANINDO. Menurutnya, Gus Ilyas sangat mengapresiasi dengan pemuda yang semangat berjuang dalam hal positif untuk membangun Kendal. Salah satunya, Khasanudin. 

Kemudian, Gus Ilyas mulai mengenalkan dengan komunitas Pembela Kesatuan Tanah Air yang dipimpin langsung oleh Gus Ilyas. Selanjutnya Gus Ilyas mengenalkan Khasan dengan teman-teman Pagar Nusa, Banser, IPNU- IPPNU, Majelis Al-Karomah, hingga Gus Tomi dari Padepokan Harimau Putih, Gus Hasan Munadi dari Pondok Pesantren Bani Umar, dan lain-lain. Dari situlah relasi Khasan bertambah luas dan semangatnya kembali membara untuk membesarkan SANINDO.

Semangat Khasan dalam mengembangkan SANINDO Kendal terealisasi melalui desain logo Sanindo Kendal. Gus Ilyas menyarankan agar logo SANINDO Kendal di dalamnya terdapat bendera merah putih, bambu runcing, buku bacaan, bintang sembilan dan tulisan tholabul ilmi minal mahdi ilal lahdi . 

Saat itu khasan hanya bisa membuat sketsanya saja. Kemudian dia dikenalkan dengan seorang desainer untuk mendigitalisasi logo tersebut dan diresmikan sebagai logo SANINDO Kendal. Dengan adanya logo itu, mulai banyak yang bergabung sebagai anggota baru di SANINDO Kendal.


Perkembangan Pesat dan Kejayaan WG Santri Indonesia Kendal Bersama Gus Ilyas

Ketika itu, dakwah SANINDO berkembang pesat. Di sana,  Khasan bekerjasama dengan banyak komunitas lain. Saat itu SANINDO Kendal sukses membuat seminar yang dikemas dalam majelis ilmu dengan hiburan tari sufi dan digelar di rumah ke rumah anggota SANINDO.

Beberapa waktu berikutnya, intensitas pertemuan Khasan dengan Gus ilyas semakin berkurang. Selain rumahnya lumayan jauh untuk pergi ke Pring Jagad, Khasan juga masih menjadi pengangguran. Sehingga dia juga butuh uang untuk sekedar membeli bensin.

Beberapa waktu kemudian, Khasan bersama teman-teman SANINDO Kendal yang lain sering pulang pergi Ungaran-Kendal hanya untuk menghadiri acara SANINDO Eks Semarang. Namun ketika kembli sowan ke Pring Jagad, hal itu dikritik oleh Gus Ilyas. 

Mengapa membangun SANINDO yang luar kota, jika yang di daerah sendiri belum aktif dan tertata. Menurutnya untuk membicarakan SANINDO dan NKRI terlalu luas jika sampai ke Unggaran. Beliau menyarankan untuk membangun SANINDO mulai dari RT, RW, Desa, Kelurahan dan Kabupaten sendiri terlebih dahulu sebelum membangun di kota lain.

Karena kejadian itu, Khasan kembaki berfikir untuk mengakali bagaimana SANINDO Kendal kedepannya. Menurutnya, SANINDO Kendal harus bisa mandiri tanpa Gus Ilyas. Dia memilih untuk mengasingkan SANINDO dari Pring Jagad. Namun, ia memiliki tekad untuk kembali sowan ke Pring Jagad dengan membawa kabar baik. Jika SANINDO Kendal telah bangkit dan lebih baik.


Kopdar Khasanudin Bersama Pendiri WG Santri Indonesia di Jakarta

Beberapa bulan kemudian, Khasan dan pengurus SANINDO pergi kopdar (perkumpulan) di Jakarta. Saat berangkat, mereka masih memiliki ongkos. Namun pada saat pulang, dia dan rombongannya sudah tak memiliki ongkos. Uang mereka habis untuk kebutuhan hidup di Jakarta.

Setelah berunding dengan rombongannya, mereka memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki. Khasan dikenal sebagai orang yang yakin akan pertolongan Allah. Dia tak pernah takut tentang apapun yang terjadi, Khasan juga yakin, jika di tengah perjalanannya nanti akan ada orang yang mau menolongnya.

Terik matahari di siang hari membuat aspal jalan raya memanas, ditambah perut kosong karena belum sarapan, membuat laju perjalanan melambat. Kemudian terlihat sebuah menara masjid, Khasan dan rombongannya memilih untuk beristirahat di masjid itu sembari menunggu waktu sholat. Ketika adzan sudah berkumandang, Khasan dan rombongannya masuk ke dalam masjid untuk menunaikan sholat berjamaah.

Usai sholat jamaah, tak disangka ada orang yang bertanya kepada Khasan. Darimana dan mau kemana. Kemudian ia menceritakan perjalanannya dari Kendal sampai Jakarta dan ingin pulang ke Kendal sampai kehabisan uang saku. 


Mendengar jawaban itu, seorang warga itu mengajak ke rumahnya untuk sekedar mengisi perut dan memberikan bekal perjalanan. Khasan sangat bersyukur atas pertolongan Allah melalui hambanya itu.

Berbincang dengan tuan rumah dan bertukar cerita, membuat perjalanan mereka lebih rileks. Seusainya bercanda dengan tuan rumah, Khasan dan rombongannya pamit. Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki lagi.

Dinginnya angin malam dan gelapnya jalanan membuat langkah kakinya melambat dan selalu waspada. Sesekali mereka menengok ke belakang. Tak hanya sekedar mengecek situasi, pengelihatan Khasan terfokus pada truk-truk yang melintas. rencananya mereka ingin menghadang dan sekedar menumpang. 

Ikhtiar itu mendapatkan hasil. Sebuah dump truk hijau hino berhenti dan siap memberikan tumpangan. Khasan dan teman-teman nya itu langsung naik ke bak truk. Khasan dan rombongannya kembali tersenyum bahagia. Mereka sampai rumah menumpang truk itu.


Khasanudin Ketika Berjuang Mendirikan Majelis Darul Istiqamah Kendal

Pada pertengahan tahun 2019, Khasan bersama pendiri SANINDO, Musthofa Kamal, pergi ke Pondok Pesantren Nurul Huda Munjul Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat. Di sana mereka bertemu dengan beberapa Kyai yang sempat memberikan Amalan Khusus untuk Perjalanan Dakwah SANINDO. 

Diantaranya yaitu Kyai Sirin, Kyai Hasan Makmun, Kyai Zaenal Muttaqin, Kyai Nur Khotim, Habib Isa bin Yahya, Kyai Agus Salim. Setelah diberi Amalan, mereka juga meminta petunjuk dan memohon restu dari para Kyai dan Habaib tersebut terkait dzikir yang akan diamalkan oleh SANINDO.

Sepulangnya dari Jawa Barat, dzikir itu dipelajari lagi untuk dibukukan. Karena dzikir syahadat bukanlah sembarang dzikir. Dzikir syahadat merupakan dzikir yang berasal dari Ponpes Nurul Huda Munjul. Ponpes Nurul Huda dari Habib Umar bin Ismail bin Ahmad bin Syaikh bin Toba bin Yahya. bersanad hingga Syaikhunal Mukarrom. 

Setelah itu, pendiri SANINDO, Musthofa Kamal mengajak Khasanudin untuk melaksanakan khataman Al-Qur'an rutin setiap minggu sekali. Setiap malam minggu diadakan khataman sekaligus membaca dzikir syahadat. 


Kegiatan itu dilaksanakan di salah satu makam Waliyullah, lokasinya fleksibel, trgantung kesepakatan kesepakatan. Biasanya dilaksanakan di makam Habib Umar Kaliwungu Kendal.

Ketika khataman Al-Qur'an sudah terus berjalan setiap minggu selama tiga bulan lebih, Ketua Umum SANINDO, Mustofa Kamal ingin membuatkan wadah bagi pegiat kegiatan itu. Kemudian dia mendirikan majelis Darul Istiqamah pusat di Kudus. 

Dengan demikian, organisasi SANINDO memiliki majelis dengan nama Darul Istiqamah. Untuk mengikuti dan menyamakan di pusat, Ketua SANINDO Kendal, Khasanudin, meminta izin untuk mendirikan majelis Darul Istiqamah cabang Kendal kepada Musthofa Kamal.

Darul Istiqamah Kendal berdiri pada bulan September 2020. Mulai bulan itu, dakwah Majelis Darul Istiqamah Kendal melanjutkan pola dakwah SANINDO Kendal pada masa sebelumnya. Yaitu dakwah dari rumah ke rumah sekali dalam satu bulan. Namun dengan ciri khas sudah menggunakan dzikir syahadat.


Lama Tak Jumpa, Khasanudin Silaturahmi Kembali ke Kediaman Gus Ilyas

Khasan merupakan sosok yang luas wawasan ilmu agamanya. Sehingga pada setiap acara selapanan, Khasan selalu mengisi mauidhoh hasanah. Dia juga membuka sesi tanya jawab dan diskusi pada setiap akhir acara selapanan. 

Karena hal itu, Khasan sering dimintai pendapat dan pertimbangan oleh anggota majelis Darul Istiqamah untuk menyelesaikan permasalahannya.

Pada saat pulang dari ziarah di Pakuncen, Khasan ingat kenangan dengan Gus Ilyas. Hal itu membuatnya ingin sowan dan memberi  kabar baik jika SANINDO Kendal telah bangkit dan membawa kabar baik, yaitu dengan berdirinya Majelis Darul Istiqamah. 

Sesampainya di Pring Jagad, Khasan tertunduk malu. Namun ia tetap memberanikan diri untuk menjelaskan Darul Istiqamah secara rinci. Mulai dari sejarah berdirinya, kegiatannya, hingga keanggotaannya. 


Gus Ilyas sangat mengapresiasi dan senang dengan kabar itu. Beliau berpesan agar terus berjuang secara istiqamah. Karena membangun itu mudah, yang sulit itu mempertahankan.

Pada bulan Desember 2020, Khasan izin pamit kepada Majelis Darul Istiqamah. Dia akan merantau ke Pangkal Pinang. Disana ia akan belajar ilmu Ruqyah dan Akupuntur. Rencananya, setelah pulang ke kampung halaman, Khasan akan membuka cabang akupuntur di Kendal. 

Kemudian ia mengajak dan melatih anggota Darul Istiqamah agar bisa menjadi terapis akupuntur.  Khasan memiliki cita-cita membangun cabang akupuntur dan kantor Majelis Darul Istiqamah. Sehingga Majelis Darul Istiqamah tetap ada dan terus konsisten dengan amalannya.

Dengan adanya kantor dan cabang terapi akupunktur, Khasan berharap Majelis Darul Istiqamah semakin maju dan mandiri di berbagai aspek. Salah satunya pada segi ekonomi. 

Menurutnya, dia ingin mengajak masyarakat kendal, khususnya kaum muda untuk terus semangat dalam menjaga dan mempelajari amaliyah yang telah diajarkan ulama terdahulu. 

Melalui Majslis Darul Istiqamah dengan kemasan yang menarik dan menyesuaikan zaman. Seperti muncak, kajian kebudayaan di desa wisata, membuat seminar dengan hiburan tari sufi, silat, akupuntur, dan lain sebagainya.


Pendapat Asifba Project Terkait Pribadi Khasanudin

Perjuangan dan pemikiran Khasanudin patut dijadikan teladan. Dengan semangat yang tinggi dan tekat yang kuat, menjadikan dia selalu meluangkan waktunya untuk SANINDO dan Majelis Darul Istiqamah. 

Bahkan kepergiannya dalam merantau tak hanya untuk dirinya saja. Namun dia lebih mengutamakan Majelis Darul Istiqamah. Pendiriannya yang percaya pertolongan Allah, membuatnya mampu untuk terus memelihara Majelis Darul Istiqamah dan SANINDO Kendal.

Hingga saat ini, Majelis Darul Istiqamah Kendal masih eksis dengan berbagai macam kegiatan. Selapanan, merupakan agenda rutin bulanan dan ziarah juga dilakukan setiap seminggu sekali.***

Sumber Artikel:
Liputan dan Wawancara Langsung Kepada Narasumber

Komentar0

Type above and press Enter to search.